Pasca Idul Qurban 1427H: "Selalu siap dan ikhlas ber-qurban harta,pemikiran,waktu,dan tenaga demi mendapat Ridho AllahSWT
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Sunday, January 21, 2007

PENDERITAAN ADALAH AWAL DARI PENCERAHAN

Seorang koki memasukkan buncis ke dalam kuali yang penuh minyak untuk dimasak. Buncis itu melompat-lompat kepanasan, ia meronta, meloncat ke tepi kuali dan berteriak, “Mengapa kau bakar aku? Tak cukupkah kau telah beli aku? Mengapa kau juga harus menyiksaku?”

Koki itu membenamkannya kembali ke dalam kuali dengan sendoknya dan berkata, “Tenanglah, mendidihlah engkau dengan baik! Jangan lompat terlalu jauh dari ia yang menyalakanmu. Aku tak merebusmu karena aku membencimu. Aku memasakmu agar kau menjadi lezat dan penuh cita rasa. Agar kau dapat menjadi makanan dan bersatu dengan kehidupan. Penderitaanmu tak disebabkan karena aku menghinakanmu! Ketika kau segar dan hijau, kau selalu meminum air di kebun. Kau meminum air itu untuk bersiap menghadapi api ini.”

Kasih sayang Tuhan lebih besar dari penderitaan yang Dia berikan. Kasih sayang-Nya senantiasa lebih besar dari murka-Nya. Kau dididihkan dalam penderitaan dan kesengsaraan, tiada lain agar ego dan eksistensi dirimu lenyap tak berbekas! Kau berubah menjadi makanan, kekuatan, dan pikiran yang luhur. Dahulu kau lemah, kini kau seperkasa singa hutan

KEJUJURAN

Pada tahun keenam Hijriyah, Abu Sufyan berniaga ke Syam. Di sana ia mendapat undangan khusus dari Kaisar Heraclius untuk berdiskusi seputar sifat Muhammad SAW serta ajaran yang didakwahkannya.

Abu Sufyan yang saat itu belum memeluk Islam serta masih memusuhi Islam dan kaum Muslimin, dengan tegas menjelaskan sifat dan akhlak mulia Rasulullah SAW. Muhammad SAW adalah sosok manusia yang jujur tanpa pernah sekalipun berdusta.

Muhammad SAW mengajak manusia untuk mengesakan Tuhan dan berbudi pekerti luhur. ‘’Demi Allah, jika bukan karena aku khawatir orang-orang akan menjuluki diriku sebagai seorang pendusta, niscaya aku akan berdusta tentang Muhammad.'’ (HR Al-Bukhari).

Rasulullah SAW memang terkenal sebagai orang yang jujur dan berakhlak mulia. Semenjak kecil beliau sudah menyandang julukan al-Amin yang artinya tepercaya. Abu Jahal yang selama hidupnya memusuhi Islam dan kaum Muslimin yang bahkan sempat mau membunuh Rasulullah SAW pernah mengatakan, ‘’Kami tidak mendustakanmu, wahai Muhammad (karena kami tahu bahwa engkau adalah orang yang jujur). Kami hanya mendustakan agama yang engkau dakwahkan.'’

Allah SWT berfirman, ‘’Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu sedih. (Namun ketahuilah) Sesungguhnya mereka tidak mendustakanmu, akan tetapi orang-orang zalim itu mendustakan ayat-ayat Allah.'’ (QS Al-An’am [6]: 33).

Suatu hari seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW. ‘’Apakah seorang Mukmin akan berdusta?'’ Dengan tegas Rasulullah SAW menyatakan tidak. Kemudian beliau membaca ayat 105 Surat An-Nahl (16). ‘’Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan adalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Dan mereka itu adalah orang-orang pendusta.'’

Dapat disimpulkan bahwa orang yang beriman, meyakini eksistensi Allah SWT dan pengetahuan-Nya atas semua amal perbuatan manusia. Seseorang yang berdusta menganggap bahwa Allah SWT tidak ada, atau Allah SWT ada tetapi tidak mengetahui kedustaan yang dilakukannya.

Sebab, salah satu tanda kemunafikan adalah kedustaan. ‘’Dia adalah munafik walaupun dia melakukan shalat dan berpuasa, serta menyangka bahwa dirinya beriman.'’ (HR Muslim).

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Sesungguhnya kejujuran akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan orang ke dalam surga. Tidaklah seseorang selalu berkata jujur atau berusaha untuk selalu jujur, sehingga Allah mencatatnya sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, kedustaan akan membawa kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menjerumuskan orang ke neraka. Dan tidaklah seseorang selalu berdusta atau berusaha menutupi kedustaannya dengan kedustaan yang lain, kecuali Allah akan mencatatnya sebagai seorang pendusta.'’ (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Ibn Mas’ud).

KELALAIAN

Kaset itu berputar cepat. Aku mengikuti doa imam dengan penuh perhatian dan kecermatan. Aku mengulangi doa itu untuk kesekian kalinya. Sekali lagi, dan sekali lagi. Setiap doa yang diucapkannya .. Segala yang diucapkan dan menjadi doanya adalah benar adanya. Hidup kita memang akan berakhir …. Kita akan dimandikan, dikafani, kemudian diletakkan di liang lahat, di dalam tanah. Nama kita akan segera terlupakan.

Namun suara yang diiringi dengan kekhusyuan itu membuatku terdiam sesaat. .. Aku memutar kembali kaset itu untuk ketiga kalinya ..

Saudariku adalah profil seorang wanita da’i yang bersungguh-sungguh. Ia telah berusaha mengubah diriku menjadi orang yang selalu memelihara shalat, untuk selalu berbuat taat. Ia berusaha semaksimal mungkin, melalui kata-kata, melalui kaset dan melalui buku-buku.

Suatu hari, ketika dia sedang mengendarai mobil bersamaku, kami terlibat pembicaraan. Ketika kami hendak turun, saudariku itu meletakkan kaset ini ke dalam Tape Recorder.

Keesokan harinya, aku keluar rumah dengan santai, tanpa perasaan apa-apa. Dengan sembarangan aku menekan tombol tape, tanpa ingat kaset apa yang terdapat di dalamnya. Seperti biasanya, aku membayangkan suara lagu yang aku sukai. Akan tetapi sudah menjadi takdir Allah, yang ada dalam tape itu ternyata adalah kaset tersebut. Aku mendengarkannya pada pagi hari, lalu kuulangi lagi pada sore harinya, dan juga sesudah Isya’.

Aku bertanya: “Kaset apa yang engkau letakkan di sini?”

Saudariku balik bertanya: “Apakah engkau tertarik?” “Tentu saja.” Jawabku. Tak seperti biasanya, ia menyambut ucapanku dengan suka cita. Ia tampak begitu gembira. Di tangannya terdapat buku, lalu diletakkan di sampingnya. Ia kembali mengulangi pertanyaannya: “Apakah engkau betul-betul tertarik dengan suara dan bacaan imam itu?” “Sungguh, aku tertarik.” Jawabku lagi.

Jawabanku itu menjadi pembuka percakapan kami yang panjang. Perbincangan semacam itu berulang beberapa kali. Namun kali ini, sungguh jauh berbeda. Di akhir perbincangan, saudariku berkata:

“Saya akan bacakan kepadamu yang baru saja kubaca: “Suatu hari, Hasan Al-Bashri lewat di hadapan seorang pemuda yang tenggelam dalam tawanya, ketika ia duduk bersama teman-temannya. Hasan berkata kepadanya: “Wahai pemuda! Pernahkah engkau melewati Ash-Shiraat?” Sang pemuda menjawab: “Belum.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau tahu, sedang berjalan menuju Surga atau Neraka?” “Tidak.” Jawab pemuda itu lagi. “Lalu apa arti tawamu itu?” Tanya beliau lagi.

Sejenak kami terdiam. Kemudian saudariku itu menengok ke arahku, seraya berkata: “Sampai kapankah kelalaian ini akan terus berlangsung?”